Video

Iran Ogah Negosiasi dengan AS, Tegaskan Akan Terus Melawan

×

Iran Ogah Negosiasi dengan AS, Tegaskan Akan Terus Melawan

Sebarkan artikel ini

Iran Ogah Negosiasi dengan AS, Tegaskan Akan Terus Melawan

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, telah secara tegas menyatakan bahwa Teheran tidak memiliki rencana untuk terlibat dalam negosiasi dengan Amerika Serikat, sebaliknya menegaskan komitmennya untuk melanjutkan perlawanan. Pernyataan ini muncul sebagai respons langsung terhadap klaim Presiden AS Donald Trump yang menyebutkan Washington telah mengusulkan sebuah rencana perdamaian, sebuah proposal yang ditolak mentah-mentah oleh Republik Islam Iran. Sikap keras Iran ini menggarisbawahi jurang ketidakpercayaan yang dalam dan perbedaan fundamental dalam visi politik kedua negara, yang telah memuncak dalam ketegangan yang berkelanjutan di Timur Tengah.

"Saat ini, kebijakan kami adalah kelanjutan dari perlawanan," ujar Araghchi, seperti dilansir kantor berita AFP pada Kamis, 26 Maret 2026. Penegasan ini bukan sekadar retorika diplomatik; melainkan cerminan dari strategi yang telah diadopsi Iran dalam menghadapi apa yang mereka anggap sebagai kampanye tekanan maksimum dan intervensi asing yang agresif dari Amerika Serikat. Bagi Teheran, "perlawanan" adalah sebuah konsep yang multidimensional, meliputi ketahanan ekonomi, kemampuan militer, kekuatan politik di dalam negeri dan regional, serta keteguhan ideologis dalam menghadapi sanksi dan ancaman.

Araghchi menegaskan kembali bahwa Teheran tidak memiliki niat untuk melakukan negosiasi dengan AS dalam kondisi saat ini. Ia menekankan bahwa pihaknya akan terus melakukan perlawanan, tanpa adanya celah untuk kompromi yang dipandang merugikan kedaulatan dan prinsip-prinsip revolusi Iran. "Kami tidak berniat untuk bernegosiasi sejauh ini, tidak ada negosiasi yang terjadi, dan saya yakin posisi kami sepenuhnya berdasarkan prinsip," kata Araghchi, memberikan gambaran bahwa sikap ini bukan keputusan taktis sementara, melainkan fondasi dari kebijakan luar negeri mereka.

Penolakan terhadap negosiasi ini juga dilandasi oleh keyakinan bahwa terlibat dalam dialog saat ini akan sama dengan pengakuan atas kekalahan. "Berbicara tentang negosiasi saat ini merupakan sebuah pengakuan atas kekalahan," tegasnya. Pernyataan ini merujuk pada pandangan Iran bahwa kampanye tekanan maksimum yang dilancarkan AS, yang bertujuan untuk memaksa Iran ke meja perundingan dengan posisi yang lemah, telah gagal. Jika Iran setuju untuk bernegosiasi sekarang, mereka khawatir itu akan memberi legitimasi pada tekanan AS dan mengesankan bahwa strategi perlawanan mereka tidak efektif. Ini adalah pertaruhan tinggi di mana reputasi dan kredibilitas di mata domestik dan regional menjadi taruhannya.

Dilansir Aljazeera, Araghchi juga menyatakan bahwa Amerika Serikat telah gagal mencapai sasaran perang utamanya terhadap Iran. Sasaran-sasaran ini, menurut pandangan Teheran, termasuk mengamankan kemenangan militer yang cepat dan mewujudkan perubahan rezim (regime change) di Teheran. Sejak Revolusi Islam 1979, perubahan rezim telah menjadi salah satu tujuan terselubung atau terang-terangan dari berbagai administrasi AS, dan kegagalan dalam mencapai hal ini dipersepsikan sebagai bukti ketahanan Iran. Kampanye "tekanan maksimum" yang diinisiasi oleh pemerintahan Trump, yang meliputi sanksi ekonomi yang melumpuhkan, juga bertujuan untuk memicu ketidakpuasan rakyat dan menggulingkan kepemimpinan, namun sejauh ini, rezim Iran tetap kokoh.

Sejarah hubungan AS-Iran adalah saga panjang yang diwarnai oleh intervensi, revolusi, sanksi, dan konfrontasi. Setelah Revolusi Islam 1979 yang menggulingkan monarki yang didukung AS, hubungan kedua negara memburuk drastis. Krisis sandera di Kedutaan Besar AS di Teheran menjadi titik balik, dan sejak itu, Iran telah memandang AS sebagai "Setan Besar" yang berupaya merongrong stabilitas dan kedaulatannya. Penarikan AS dari Kesepakatan Nuklir Iran (JCPOA) pada tahun 2018, yang dicapai setelah bertahun-tahun negosiasi dan dukungan internasional luas, semakin memperdalam jurang ketidakpercayaan. Bagi Iran, penarikan sepihak AS dari perjanjian internasional yang sah ini menunjukkan bahwa AS bukanlah mitra yang dapat diandalkan, dan setiap kesepakatan baru akan rentan dibatalkan di masa depan.

Dalam konteks inilah, gagasan tentang "rencana perdamaian" yang diajukan oleh Trump dipandang dengan skeptisisme mendalam. Detail spesifik dari rencana tersebut tidak diungkapkan secara luas dalam laporan awal, namun dari perspektif Iran, setiap proposal perdamaian dari AS kemungkinan besar akan mencakup tuntutan agar Iran mengekang program misil balistiknya, mengakhiri dukungannya terhadap kelompok-kelompok regional yang bersekutu dengannya, dan mungkin menegosiasikan kembali aspek-aspek perjanjian nuklir yang lebih ketat. Tuntutan-tuntutan ini telah berulang kali ditolak oleh Iran, yang menganggapnya sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan dan haknya untuk mempertahankan diri.

Strategi "perlawanan" Iran juga tercermin dalam responsnya terhadap berbagai provokasi dan tindakan militer AS di wilayah tersebut. Insiden seperti penembakan jatuh drone pengintai AS oleh Iran, serangan terhadap fasilitas minyak di Arab Saudi yang ditudingkan kepada Iran (meskipun Iran membantah), serta pembunuhan Mayor Jenderal Qasem Soleimani oleh AS dan balasan rudal Iran terhadap pangkalan militer AS di Irak, semuanya menjadi bukti dari tekad Iran untuk tidak menyerah pada tekanan militer. Iran telah menunjukkan bahwa mereka mampu dan bersedia untuk membalas, sebuah pesan yang dimaksudkan untuk mencegah eskalasi lebih lanjut yang tidak terkendali.

Araghchi juga mengambil kesempatan ini untuk mendesak negara-negara tetangga Iran agar menjauhkan diri dari Amerika Serikat. Ia menambahkan bahwa respons Iran terhadap tindakan AS telah menunjukkan kepada dunia bahwa "tidak ada negara yang dapat mengancam keamanannya". Seruan ini mencerminkan upaya Iran untuk membangun koalisi regional yang lebih kuat dan mengurangi pengaruh AS di Teluk Persia. Banyak negara di kawasan, terutama Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, memiliki hubungan keamanan yang erat dengan AS dan sering kali bersekutu dengannya dalam menentang Iran. Dengan meminta mereka menjauhkan diri, Iran berharap dapat melemahkan aliansi yang menargetkannya dan menciptakan lingkungan regional yang lebih kondusif bagi kepentingan keamanannya sendiri.

Bagi Iran, dukungan terhadap kelompok-kelompok seperti Hizbullah di Lebanon, Houthi di Yaman, dan milisi Syiah di Irak, yang sering disebut oleh AS sebagai "proksi", adalah bagian integral dari strategi pertahanan regionalnya. Iran memandang kelompok-kelompok ini sebagai garis pertahanan terdepan terhadap musuh-musuh regional dan intervensi asing, serta sebagai alat untuk memproyeksikan pengaruhnya. Melepaskan dukungan ini, dari sudut pandang Iran, akan sama dengan menyerahkan keunggulan strategis dan membuka diri terhadap ancaman yang lebih besar.

Sikap Iran ini memiliki implikasi yang luas bagi stabilitas regional dan global. Dengan penolakan tegas terhadap negosiasi dan komitmen terhadap perlawanan, prospek de-eskalasi dalam waktu dekat tampak suram. Ketegangan dapat terus membara, dengan potensi insiden kecil untuk memicu konflik yang lebih besar. Masyarakat internasional, terutama kekuatan Eropa yang masih berusaha mempertahankan JCPOA, akan menghadapi tantangan berat dalam mencari jalan keluar dari kebuntuan ini. Mereka telah berulang kali menyerukan dialog dan de-eskalasi, tetapi sikap keras dari kedua belah pihak membuat upaya diplomatik menjadi sangat sulit.

Di dalam negeri Iran, sikap perlawanan ini juga berfungsi untuk menggalang dukungan rakyat dan memperkuat legitimasi rezim. Dalam menghadapi sanksi ekonomi yang keras dan dampak pandemi global, narasi perlawanan dan ketahanan menjadi krusial untuk menjaga moral dan persatuan nasional. Para pemimpin Iran sering kali menggambarkan perlawanan ini sebagai perjuangan untuk harga diri dan kemerdekaan, sebuah narasi yang beresonansi dengan banyak warga Iran yang bangga akan sejarah dan budaya mereka.

Ke depan, jalur yang akan diambil oleh hubungan AS-Iran tetap tidak pasti. Dengan pemerintahan AS yang baru mungkin memiliki pendekatan yang berbeda, ada kemungkinan perubahan kebijakan, tetapi pengalaman masa lalu telah mengajarkan Iran untuk tidak terlalu percaya pada janji-janji. Selama fundamental kepercayaan tidak dipulihkan dan AS tidak mengubah pendekatannya yang dianggap sebagai tekanan dan ancaman, Iran kemungkinan besar akan tetap teguh pada pendiriannya: menolak negosiasi dan terus melawan. Ini adalah permainan kekuatan yang berisiko tinggi, dengan konsekuensi yang berpotensi besar bagi seluruh dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *